STOISISME
APA ITU STOISISME ??
Stoikisme, atau sering disebut juga Stoisisme atau Stoa, adalah sebuah aliran filsafat Yunani kuno yang didirikan oleh Zeno dari Citium di Athena, Yunani, pada awal abad ke-3 SM. Aliran ini memiliki pengaruh yang kuat dalam filsafat dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran stoikisme meliputi perkembangan dalam logika, fisika, dan terutama etika, yang menitikberatkan pada konsep apatheia atau ketenangan batin dalam menghadapi kehidupan.
Filsafat stoikisme dikenal dengan prinsip-prinsip seperti tidak terpengaruh oleh emosi negatif, hidup sesuai dengan kodrat manusia, dan menyelaraskan diri dengan hukum alam yang diatur oleh Sang Ilahi atau Logos. Para stoik percaya bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan manusia terletak pada kesempurnaan moral dan intelektual, yang memungkinkan mereka untuk mengatasi emosi-emosi yang merusak.
Tokoh-tokoh terkenal dalam stoikisme meliputi Zeno dari Citium, Chrisippus dari Soli, Cleanthes dari Assos, Seneca Muda, Cicero, Epictetus, dan Marcus Aurelius. Mereka mengembangkan berbagai konsep dan prinsip stoik yang menjadi dasar bagi filsafat ini.
Dalam konteks politik, stoikisme memiliki pendekatan yang bervariasi. Beberapa tokoh stoik menjauhi keterlibatan politik karena muak dengan perilaku elit politik pada zamannya, sementara yang lain terlibat aktif dalam politik dengan keyakinan bahwa tugas politik adalah tugas suci yang diberikan oleh Tuhan. Sikap terhadap politik stoikisme mencerminkan keberagaman dalam pandangan filosofis dan praktis di dalam aliran ini.
Dengan berpegang pada prinsip-prinsip etika stoikisme, seperti kebajikan sebagai hal yang utama dan ketenangan batin dalam menghadapi cobaan hidup, para pemikir stoik memandang bahwa kebahagiaan sejati dapat dicapai dengan menyelaraskan diri dengan hukum alam dan menjauhi pengaruh-pengaruh yang bersifat eksternal atau merusak.
BERPIKIR SECARA STOIK
Prinsip utama Stoisisme adalah hidup selaras dengan alam, yang berarti mengakui bahwa semua yang terjadi memiliki keterkaitan dan bahwa individu harus menggunakan akalnya untuk memisahkan diri dari hewan. Tujuan utamanya adalah mencapai kebahagiaan sejati dengan membebaskan diri dari emosi negatif, menjalani hidup dengan damai, dan mengasah kebajikan seperti keadilan, keberanian, dan pengendalian diri.
Salah satu konsep penting dalam Stoisisme adalah "dikotomi kendali", yang mengajarkan bahwa ada hal-hal yang dapat dikendalikan dan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh individu. Dikotomi kendali dipisah menjadi dua (2) antara lain :
1. Apa yang tergantung padaku
2. Apa yang tidak tergantung pada ku
Individu diharapkan untuk fokus pada hal-hal yang dapat mereka kendalikan, seperti pikiran dan tindakan mereka sendiri, sementara menerima bahwa banyak hal di dunia ini di luar kendali mereka, seperti pendapat orang lain atau keadaan saat dilahirkan.
Stoisisme juga mengajarkan pentingnya membedakan antara fakta objektif dan penilaian subjektif, yang seringkali merupakan sumber emosi negatif. Hal ini penting terutama dalam era sosial media, di mana pendapat individu seringkali tidak terkontrol. Stoisisme menekankan bahwa individu harus mengendalikan pikiran mereka sendiri dan tidak membiarkan penilaian atau pendapat orang lain memengaruhi emosi mereka.
Untuk mengatasi emosi negatif, Stoisisme menyarankan langkah-langkah seperti menghentikan diri untuk merenungkan situasi dengan jernih (stop), memikirkan dan mengevaluasi emosi secara rasional (think & assess), dan merespons dengan bijaksana setelah mempertimbangkan keadaan dengan baik (respond). Dengan cara ini, individu dapat mengendalikan emosi negatif mereka dan hidup dengan lebih tenang dan bahagia.

Komentar
Posting Komentar